Dampak Teknologi Informasi dalam meningkatkan patient safety dan kualitas pelayanan pasien
Abstrak
Keselamatan pasien (patient safety)merupakan komponen penting dalam menjamin mutu pelayanan keperawatan yang diberikan kepada pasien. Banyak hal yang dapat menunjang penerapan patient safety tersebut salah satunya adalah dengan teknologi Informasi yang berkembang pesat saat ini. Banyak penemuan dalam bidang teknologi informasi yang dihasilkan untuk penerapan patient safety tersebut baik berbentuk software maupun hardware. Artikel ini bertujun untuk menguraikan beberapa inovasi yang dikembangkan dalam rangka penerapan patient safety oleh perawat baik software maupun hardware yang dapat menjadi pedoman bagi perawat dalam melaksanakan tugasnya sehingga diharapkan kejadian medical error dapat dicegah dan kualitas pelayanan keperawatan menjadi lebih optimal tanpa mengurangi prinsip dasar carring dengan komunikasi terapeutik yang mencakup biopsikososiospiritual pasien. Kata Kunci : perawat, patient safety, teknologi informasi
1.Pelaporan Insiden
3.Perkiraan risiko
4.Peringatan keamanan
5.Akreditasi / Standar
6.Pengalaman pasien dan umpan balik
7.Keluhan, pujian, komentar dan kepentingan
8.Klaim penanganan
(Report Information from ProQuest, 2015)
1.Deskripsi kejadian (pelaporan deskripsi peristiwa keselamatan pasien dan kondisi yang tidak aman)
2.Spesifikasi untuk laporan agregat keselamatan pasien dan ringkasan aktivitas tertentu
3.Delineasi elemen data yang akan dikumpulkan untuk berbagai jenis kejadian untuk mengisi laporan
4.Sebuah panduan pengguna dan panduan cepat
5.Spesifikasi teknis untuk pengumpulan data elektronik dan pelaporan.
Keselamatan pasien merupakan salah satu komponen penting dalam menjamin mutu pelayanan kesehatan terutama keperawatan. Konsep penjaminan mutu tertuju kepada keselamatan pasien serta terjaminnya mutu pelayanan secara berkesinambungan. Sistem mutu berupaya menghasilkan asuhan keperawatan yang berfokus pada pasien serta berfokus pada kepuasan pelanggan, baik pelanggan internal (staf) maupun pelanggan eksternal (Hariyati, 2014).
Kasus medical error yang sering terjadi diberbagai negara menjadikan keselamatan pasien (patient safety) sebagai isu yang penting untuk segera ditangani. Menurut Cahyono (2012) hampir 100.000 pasien meninggal dunia di amerika serikat akibat medical error dan sebagian (50%) diantaranya adalah merupakan cidera medis yang sebenarnya dapat dicegah.
Upaya pemerintah dalam menerapkan program keselamatan pasien untuk menjamin mutu pelayanan tersebut antara lain menetapkan PMK No. 1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang keselamatan pasien rumah sakit, mencanangkan Gerakan Nasional Keselamatan Pasien (GNKP), penyusunan buku panduan keselamatan pasien RS, serta menyusun Standar Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KP RS) yang dimasukan kedalam instrumen akreditasi RS (Rachmawaty, 2012). Dengan adanya kebijakan-kebijakan tersebut diharapkan perawat semakin terarah dalam menerapkan berbagai upaya keselamatan pasien dirumah sakit sehingga dapat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan yang diberikan.
Keberhasilan program keselamatan pasien bukan hanya ditunjang dengan berbagai kebijakan baik oleh pemerintah maupun internal rumah sakit. Banyak faktor penunjang lainya yang turut membantu pelaksanaan program tersebut, salah satu diantaranya adalah kemajuan teknologi informasi. Hal terpenting bagi perawat dalam menunjang keselamatan pasien dan kesembuhannya adalah dengan teknologi informasi (Bodin, 2007). Oleh karena itu penting bagi perawat untuk dapat meningkatkan pengetahuan dalam bidang teknologi informasi agar prosedur perawatan yang dilakukan dapat terintegrasi dengan baik.
Setiap hari pasien dirugikan oleh tindakan dan kelambanan para petugas kesehatan. Mereka dirugikan karena masalah sistem yang kurang handal baik untuk diagnosis, komplikasi terapi, respon terhadap intervensi, dan masalah komunikasi terkait dengan prosedur perawatan pasien tersebut. Craven dan Hirnle dalam Setiowati (2010) mengemukakan bahwa ketidakpedulian akibat keselamatan pasien akan menyebakan kerugian bagi pasien dan pihak rumah sakit, seperti biaya yang harus ditanggung pasien menjadi lebih besar, pasien semakin lama dirawat di rumah sakit dan terjadinya resistensi obat.
Perkembangan teknologi informasi untuk mengakomodir program keselamatan dewasa ini perkembang dengan pesat. Banyak inovasi-inovasi yang dihasilkan baik berbentuk software maupun hardware. Akan tetapi walaupun teknologi canggih digunakan dalam informatika, bukan berarti teknologi tersebut dapat menjamin perawatan pasien yang berkualitas. Teknologi hanyalah alat yang memungkinkan transfer informasi untuk meningkatkan perawatan (Bodin, 2007).
Salah satu program yang dikembangkan untuk menunjang penerapan patient safety tersebut adalah software yang dikembangkan oleh sebuah perusahaan di Inggris yang dipelopori oleh Dr. Chon yang menjadi penggagas software untuk patient safety berbasis web yang diberi nama Datix. Datix sangat dapat dikonfigurasi, yang berarti dapat disesuaikan dengan struktur dan kebutuhan organisasi. Perusahaan tersebut juga menyediakan pelatihan komperhensif, konsultasi, jasa instalasi dan manajemen proyek untuk memastikan bahwa dalam operasional program tersebut berjalan dengan efektif dan efisien (www.datix.com).
Datix telah menjadi perintis di bidang keselamatan pasien sejak tahun 1986 dan menjadi pemasok perangkat lunak terkemuka untuk keselamatan pasien, manajemen risiko, insiden dan laporan kejadian yang merugikan. Datix bertujuan untuk membantu organisasi kesehatan membangun budaya dan praktek yang mendorong keunggulan dalam keselamatan pasien. Datix difokuskan pada sektor kesehatan dan perawatan sosial. Di Inggris, lebih dari 75% NHS menggunakan Datix. Software ini juga telah tersebar diberbagai Negara antara lain Amerika Serikat, Kanada, Australia, Timur tengah dan Eropa. Software terintegrasi ini meliputi : unsur-unsur meliputi :
Hasil ujicoba di University Hospitals Bristol (NHS) yang merupakan salah satu rumah sakit pendidikan terkemuka di inggris menyatakan bahwa dengan adanya software berbasis web dari Datix membuat insiden atau keluhan pasien dapat segera teridentifiksi oleh perawat dengan lebih cepat sehingga perawat tersebut dapat langsung terhubung dengan departemen/komisi terkait kualitas pelayanan dan pengelolaan investigasi sehingga strategi korektif dapat segera dilakukan. Datix dashboard, yaitu peringatan keamanan terbaru Komisi Kualitas Pelayanan (CQC) berupa modul untuk membuat kerangka kerja keselamatan pasien yang fleksibel yang mendukung lebih dari 8.000 staf dan 100 layanan klinis dan dirancang untuk menunjukkan kepatuhan terhadap peraturan dan mendorong perbaikan terus-menerus dalam perawatan berkualitas (Report Information from ProQuest, 2015)
Lebih dari 116 pusat kesehatan akademik dan 264 Rumah Sakit di Amerika Serikat mengumumkan kerja sama strategis untuk menggunakan software Datix untuk solusi program keselamatan pasien. Tujuannya adalah untuk memperoleh keamanan dalam prosedur perawatan pasien dan efektifitas biaya serta perbaikan berarti bagi rumah sakit atas seluruh AS ” (Report Information from ProQuest, 2012)
Selain software tersebut departemen of health and human service USA juga mengembangkan sebuah format untuk patient safety dengan menggunakan format AHRQ. AHRQ telah mengembangkan format umum untuk dua pengaturan perawatan yaitu rumah sakit perawatan akut dan terampil fasilitas keperawatan – untuk memfasilitasi pengumpulan data standar. Kronick (2015) menguraikan format umum AHRQ meliputi:
Format AHRQ tersebut diharapkan dapat menjadi pedoman bagi perawat dirumah sakit dalam penerapan patient safety. Penggunaan format tersebut sudah banyak dipakai dibeberapa rumah sakit di Indonesia salah satunya dirumah sakit Universitas Hasanuddin Makassar dimana dengan menggunakan format AHRQ tersebut budaya penerapan patient safety oleh perawat terbukti dapat berjalan dengan baik (Bea, Pasinringi, & Nur, 2013).
Inovasi-inovasi yang dikembangkan tersebut mengharuskan perawat mempersiapkan diri untuk mengelola informasi dan penggunaan teknologi secara efektif. Studi Pravikoff (2005) menyimpulkan bahwa RNs di Amerika Serikat tidak siap untuk menerapkan praktek berbasis bukti (evidence based) karena kesenjangan dalam literasi informasi mereka dan keterampilan komputer. Mereka memiliki keterbatasan baik kesumber daya yang memiliki kompetensi tinggi dalam teknologi informasi dan riset. Hasil penelitian oleh Utari (2013) menyatakan ada beberapa variabel yang turut mempengaruhi keselamatan pasien di rumah sakit yaitu variabel individu baik ketrampilan teknis, non teknis dan pendidikan yang dimiliki serta variabel lingkungan kerja yang terdiri dari lingkungan fisik dan non fisik.
Amerika Serikat telah memasukan pendidikan teknologi informasi ke dalam salah satu kurikulum yang diajarkan pada program sarjana keperawatan. The Quality and Safety Education for Nurses (QSEN) adalah salah satu program untuk meningkatkan pendidikan informatika yang terdiri dari Pengetahuan (perawatan keselamatan berkualitas dan pengembangan teknologi), Keterampilan (keterampilan komputer, penggunaan sumber informasi, penggunaan electrical medical record EMR dan evaluasi perkembangan pasien) dan Attitude (belajar terus-menerus, efikasi informasi, isu etik). Namun, kemajuan ke arah integrasi informatika dalam kurikulum keperawatan berjalan lambat, dan strategi tambahan perlu dieksplorasi lebih lanjut dalam literatur keperawatan. QSEN menyajikan strategi dalam mengajar beberapa aspek informatika di kelas, laboratorium simulasi, dan pengaturan klinis.
Banyak pula upaya-upaya lainnya yang dapat dilakukan selain program-program diatas. Program-program pelatihan terkait pasien safety juga perlu dimasukan kedalam agenda rumah sakit ataupun fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Hasil penelitian oleh Nilasari (2010) terdapat peningkatan bermakna sebelum dan sesudah pelatihan pada keterampilan perawat klinik pada penerapan patient safety di RSUP Fatmawati Jakarta.
Selain beberapa hal diatas tentunya masih banyak pula yang harus dievaluasi dari diri perawat itu sendiri. Teknologi informasi hanyalah alat yang dipakai untuk memfasilitasi pelayanan keperawatan agar lebih maksimal tanpa melupakan peran perawat yang haqiqi yaitu merawat pasien baik biopsikososiospiritual dengan berpegang pada prisnsip caring dan komunikasi terapeutik. Kemampuan komunikasi terapeutik oleh perawat sebagai wujud perilaku caring harus lebih ditingkatkan mengingat kesalahan-kesalahan yang terjadi sebagian besar disebabkan oleh ketidak mampuan perawat dalam berkomunikasi dengan pasien terkait dengan prosedur perawatan kesehatan yang dilakukan. Sebuah studi kualitatif dilakukan pada 30 partisipan (pasien) terkait dengan dimana medical error yang terjadi disebabkan karena masalah komunikasi baik kesalahpahaman dengan perawat ataupun perawat itu sendiri yang tidak memiliki kemampuan komunikasi interpersonal yang baik (Kooingea & Stewart, 2010).
Keselamatan pasien (patient safety)merupakan komponen penting dalam menjamin mutu pelayanan keperawatan yang diberikan kepada pasien. Banyak hal yang dapat menunjang penerapan patient safety tersebut salah satunya adalah dengan teknologi Informasi yang berkembang pesat saat ini. Banyak penemuan dalam bidang teknologi informasi yang dihasilkan untuk penerapan patient safety tersebut baik berbentuk software maupun hardware. Artikel ini bertujun untuk menguraikan beberapa inovasi yang dikembangkan dalam rangka penerapan patient safety oleh perawat baik software maupun hardware yang dapat menjadi pedoman bagi perawat dalam melaksanakan tugasnya sehingga diharapkan kejadian medical error dapat dicegah dan kualitas pelayanan keperawatan menjadi lebih optimal tanpa mengurangi prinsip dasar carring dengan komunikasi terapeutik yang mencakup biopsikososiospiritual pasien. Kata Kunci : perawat, patient safety, teknologi informasi
1.Pelaporan Insiden
3.Perkiraan risiko
4.Peringatan keamanan
5.Akreditasi / Standar
6.Pengalaman pasien dan umpan balik
7.Keluhan, pujian, komentar dan kepentingan
8.Klaim penanganan
(Report Information from ProQuest, 2015)
1.Deskripsi kejadian (pelaporan deskripsi peristiwa keselamatan pasien dan kondisi yang tidak aman)
2.Spesifikasi untuk laporan agregat keselamatan pasien dan ringkasan aktivitas tertentu
3.Delineasi elemen data yang akan dikumpulkan untuk berbagai jenis kejadian untuk mengisi laporan
4.Sebuah panduan pengguna dan panduan cepat
5.Spesifikasi teknis untuk pengumpulan data elektronik dan pelaporan.
Keselamatan pasien merupakan salah satu komponen penting dalam menjamin mutu pelayanan kesehatan terutama keperawatan. Konsep penjaminan mutu tertuju kepada keselamatan pasien serta terjaminnya mutu pelayanan secara berkesinambungan. Sistem mutu berupaya menghasilkan asuhan keperawatan yang berfokus pada pasien serta berfokus pada kepuasan pelanggan, baik pelanggan internal (staf) maupun pelanggan eksternal (Hariyati, 2014).
Kasus medical error yang sering terjadi diberbagai negara menjadikan keselamatan pasien (patient safety) sebagai isu yang penting untuk segera ditangani. Menurut Cahyono (2012) hampir 100.000 pasien meninggal dunia di amerika serikat akibat medical error dan sebagian (50%) diantaranya adalah merupakan cidera medis yang sebenarnya dapat dicegah.
Upaya pemerintah dalam menerapkan program keselamatan pasien untuk menjamin mutu pelayanan tersebut antara lain menetapkan PMK No. 1691/MENKES/PER/VIII/2011 tentang keselamatan pasien rumah sakit, mencanangkan Gerakan Nasional Keselamatan Pasien (GNKP), penyusunan buku panduan keselamatan pasien RS, serta menyusun Standar Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KP RS) yang dimasukan kedalam instrumen akreditasi RS (Rachmawaty, 2012). Dengan adanya kebijakan-kebijakan tersebut diharapkan perawat semakin terarah dalam menerapkan berbagai upaya keselamatan pasien dirumah sakit sehingga dapat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan yang diberikan.
Keberhasilan program keselamatan pasien bukan hanya ditunjang dengan berbagai kebijakan baik oleh pemerintah maupun internal rumah sakit. Banyak faktor penunjang lainya yang turut membantu pelaksanaan program tersebut, salah satu diantaranya adalah kemajuan teknologi informasi. Hal terpenting bagi perawat dalam menunjang keselamatan pasien dan kesembuhannya adalah dengan teknologi informasi (Bodin, 2007). Oleh karena itu penting bagi perawat untuk dapat meningkatkan pengetahuan dalam bidang teknologi informasi agar prosedur perawatan yang dilakukan dapat terintegrasi dengan baik.
Setiap hari pasien dirugikan oleh tindakan dan kelambanan para petugas kesehatan. Mereka dirugikan karena masalah sistem yang kurang handal baik untuk diagnosis, komplikasi terapi, respon terhadap intervensi, dan masalah komunikasi terkait dengan prosedur perawatan pasien tersebut. Craven dan Hirnle dalam Setiowati (2010) mengemukakan bahwa ketidakpedulian akibat keselamatan pasien akan menyebakan kerugian bagi pasien dan pihak rumah sakit, seperti biaya yang harus ditanggung pasien menjadi lebih besar, pasien semakin lama dirawat di rumah sakit dan terjadinya resistensi obat.
Perkembangan teknologi informasi untuk mengakomodir program keselamatan dewasa ini perkembang dengan pesat. Banyak inovasi-inovasi yang dihasilkan baik berbentuk software maupun hardware. Akan tetapi walaupun teknologi canggih digunakan dalam informatika, bukan berarti teknologi tersebut dapat menjamin perawatan pasien yang berkualitas. Teknologi hanyalah alat yang memungkinkan transfer informasi untuk meningkatkan perawatan (Bodin, 2007).
Salah satu program yang dikembangkan untuk menunjang penerapan patient safety tersebut adalah software yang dikembangkan oleh sebuah perusahaan di Inggris yang dipelopori oleh Dr. Chon yang menjadi penggagas software untuk patient safety berbasis web yang diberi nama Datix. Datix sangat dapat dikonfigurasi, yang berarti dapat disesuaikan dengan struktur dan kebutuhan organisasi. Perusahaan tersebut juga menyediakan pelatihan komperhensif, konsultasi, jasa instalasi dan manajemen proyek untuk memastikan bahwa dalam operasional program tersebut berjalan dengan efektif dan efisien (www.datix.com).
Datix telah menjadi perintis di bidang keselamatan pasien sejak tahun 1986 dan menjadi pemasok perangkat lunak terkemuka untuk keselamatan pasien, manajemen risiko, insiden dan laporan kejadian yang merugikan. Datix bertujuan untuk membantu organisasi kesehatan membangun budaya dan praktek yang mendorong keunggulan dalam keselamatan pasien. Datix difokuskan pada sektor kesehatan dan perawatan sosial. Di Inggris, lebih dari 75% NHS menggunakan Datix. Software ini juga telah tersebar diberbagai Negara antara lain Amerika Serikat, Kanada, Australia, Timur tengah dan Eropa. Software terintegrasi ini meliputi : unsur-unsur meliputi :
Hasil ujicoba di University Hospitals Bristol (NHS) yang merupakan salah satu rumah sakit pendidikan terkemuka di inggris menyatakan bahwa dengan adanya software berbasis web dari Datix membuat insiden atau keluhan pasien dapat segera teridentifiksi oleh perawat dengan lebih cepat sehingga perawat tersebut dapat langsung terhubung dengan departemen/komisi terkait kualitas pelayanan dan pengelolaan investigasi sehingga strategi korektif dapat segera dilakukan. Datix dashboard, yaitu peringatan keamanan terbaru Komisi Kualitas Pelayanan (CQC) berupa modul untuk membuat kerangka kerja keselamatan pasien yang fleksibel yang mendukung lebih dari 8.000 staf dan 100 layanan klinis dan dirancang untuk menunjukkan kepatuhan terhadap peraturan dan mendorong perbaikan terus-menerus dalam perawatan berkualitas (Report Information from ProQuest, 2015)
Lebih dari 116 pusat kesehatan akademik dan 264 Rumah Sakit di Amerika Serikat mengumumkan kerja sama strategis untuk menggunakan software Datix untuk solusi program keselamatan pasien. Tujuannya adalah untuk memperoleh keamanan dalam prosedur perawatan pasien dan efektifitas biaya serta perbaikan berarti bagi rumah sakit atas seluruh AS ” (Report Information from ProQuest, 2012)
Selain software tersebut departemen of health and human service USA juga mengembangkan sebuah format untuk patient safety dengan menggunakan format AHRQ. AHRQ telah mengembangkan format umum untuk dua pengaturan perawatan yaitu rumah sakit perawatan akut dan terampil fasilitas keperawatan – untuk memfasilitasi pengumpulan data standar. Kronick (2015) menguraikan format umum AHRQ meliputi:
Format AHRQ tersebut diharapkan dapat menjadi pedoman bagi perawat dirumah sakit dalam penerapan patient safety. Penggunaan format tersebut sudah banyak dipakai dibeberapa rumah sakit di Indonesia salah satunya dirumah sakit Universitas Hasanuddin Makassar dimana dengan menggunakan format AHRQ tersebut budaya penerapan patient safety oleh perawat terbukti dapat berjalan dengan baik (Bea, Pasinringi, & Nur, 2013).
Inovasi-inovasi yang dikembangkan tersebut mengharuskan perawat mempersiapkan diri untuk mengelola informasi dan penggunaan teknologi secara efektif. Studi Pravikoff (2005) menyimpulkan bahwa RNs di Amerika Serikat tidak siap untuk menerapkan praktek berbasis bukti (evidence based) karena kesenjangan dalam literasi informasi mereka dan keterampilan komputer. Mereka memiliki keterbatasan baik kesumber daya yang memiliki kompetensi tinggi dalam teknologi informasi dan riset. Hasil penelitian oleh Utari (2013) menyatakan ada beberapa variabel yang turut mempengaruhi keselamatan pasien di rumah sakit yaitu variabel individu baik ketrampilan teknis, non teknis dan pendidikan yang dimiliki serta variabel lingkungan kerja yang terdiri dari lingkungan fisik dan non fisik.
Amerika Serikat telah memasukan pendidikan teknologi informasi ke dalam salah satu kurikulum yang diajarkan pada program sarjana keperawatan. The Quality and Safety Education for Nurses (QSEN) adalah salah satu program untuk meningkatkan pendidikan informatika yang terdiri dari Pengetahuan (perawatan keselamatan berkualitas dan pengembangan teknologi), Keterampilan (keterampilan komputer, penggunaan sumber informasi, penggunaan electrical medical record EMR dan evaluasi perkembangan pasien) dan Attitude (belajar terus-menerus, efikasi informasi, isu etik). Namun, kemajuan ke arah integrasi informatika dalam kurikulum keperawatan berjalan lambat, dan strategi tambahan perlu dieksplorasi lebih lanjut dalam literatur keperawatan. QSEN menyajikan strategi dalam mengajar beberapa aspek informatika di kelas, laboratorium simulasi, dan pengaturan klinis.
Banyak pula upaya-upaya lainnya yang dapat dilakukan selain program-program diatas. Program-program pelatihan terkait pasien safety juga perlu dimasukan kedalam agenda rumah sakit ataupun fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Hasil penelitian oleh Nilasari (2010) terdapat peningkatan bermakna sebelum dan sesudah pelatihan pada keterampilan perawat klinik pada penerapan patient safety di RSUP Fatmawati Jakarta.
Selain beberapa hal diatas tentunya masih banyak pula yang harus dievaluasi dari diri perawat itu sendiri. Teknologi informasi hanyalah alat yang dipakai untuk memfasilitasi pelayanan keperawatan agar lebih maksimal tanpa melupakan peran perawat yang haqiqi yaitu merawat pasien baik biopsikososiospiritual dengan berpegang pada prisnsip caring dan komunikasi terapeutik. Kemampuan komunikasi terapeutik oleh perawat sebagai wujud perilaku caring harus lebih ditingkatkan mengingat kesalahan-kesalahan yang terjadi sebagian besar disebabkan oleh ketidak mampuan perawat dalam berkomunikasi dengan pasien terkait dengan prosedur perawatan kesehatan yang dilakukan. Sebuah studi kualitatif dilakukan pada 30 partisipan (pasien) terkait dengan dimana medical error yang terjadi disebabkan karena masalah komunikasi baik kesalahpahaman dengan perawat ataupun perawat itu sendiri yang tidak memiliki kemampuan komunikasi interpersonal yang baik (Kooingea & Stewart, 2010).
Komentar
Posting Komentar